Connect with us

Berpuasa; Menabung Makanan Atau Belajar Menahan Diri

Opini

Berpuasa; Menabung Makanan Atau Belajar Menahan Diri

Berpuasa berarti menahan segala sesuatu, mulai dari makan-minum hingga hawa nafsu. Meski hanya sekedar menahan seharian, seharusnya puasa berdampak besar dalam kehidupan manusia. Sebab, berpuasa mengajari kita untuk memilih keinginan yang pantas dipenuhi sewajarnya, bukan sepenuhnya. Bagaimana caranya?

Keinginan dan Kebutuhan

Mari kita mulai, setiap kebutuhan berasal dari keinginan. Keinginan yang kuat mendorong dan memaksa seseorang untuk harus memenuhinya. Jika keinginan tersebut tidak terpenuhi maka akan berakibat fatal. Dalam kondisi seperti inilah, keinginan tersebut berubah menjadi kebutuhan. Maka dari sini dikenal setiap kebutuhan harus dipenuhi, harus dicukupi. Misalnya makan dan minum, sebelum menjadi kebutuhan, tentu tubuh menginginkan sesuatu yang diasup. Keinginan tersebut mendorong dan memaksa tubuh dan pikiran mencari sesuatu untuk dimakan. Jika tidak mendapatkannya, maka tubuh akan bereaksi sakit bahkan sampai meninggal.

Puasa Sebagai Kontrol Keinginan

Puasa mengajarkan manusia untuk tidak selalu memenuhi setiap keinginan. Menahan untuk tidak makan dan minum berarti jiwa berikhtiar selalu ada keinginan yang bisa dikontrol, dijaga, bahkan dikurangi yang tidak berdampak buruk bagi tubuh. Justru sebaliknya, penelitian mengatakan berpuasa menyehatkan. Padahal jika dipikir, makan dan minum adalah kebutuhan mutlak yang wajib dipenuhi. Artinya, makan dan minum adalah kebutuhan yang bisa dipenuhi sewajarnya atau secukupnya saja.

Maka berpuasa adalah media belajar bagi manusia agar mengetahui mana keinginan yang perlu dicukupi bahkan dihindari. Waktu seharian berpuasa adalah masa dimana seharusnya manusia berpikir mana keinginan yang harus dipenuhi atau tidak perlu. Selama satu bulan akan dikalkulasikan mana keinginan yang perlu menjadi kebutuhan mana yang tidak perlu.

Kebutuhan Yang Dipaksakan

Persoalannya adalah ketika muncul sebuah kebutuhan, maka dorongan diri berubah menjadi paksaan. Sehingga seseorang akan memaksakan apapun caranya demi memenuhi kebutuhan. Pemaksaan ini akan berujung pada sikap pembenaran yang tidak seharusnya. Seolah-olah segala sesuatu yang berkaitan menutupi kebutuhan adalah kebenaran. Dampaknya seperti orang mencuri karena sesuap nasi, mengemis menjadi pekerjaan pasti demi kebutuhan, bahkan begal, pemerasan, pencurian, perampokan, segalanya berdalih terdesak “kebutuhan”.

Maka, bagaimana jika puasa sebagai media memilih keinginan diimplementasikan lebih luas? Jelas, setiap orang tak perlu korupsi demi kebutuhan perut saja. Manusia tak perlu memakan semua jenis flora dan fauna yang ada dan ekosistem akan terus terjaga. Manusia benar-benar cukup mencari makan sewajarnya. Jika seseorang mulai mencari makan sekedarnya, dan diikuti oleh banyak orang, tentu rebutan lahan dan rebutan pangan hanya menjadi cerita dongeng saja.

Mengumpulkan Makanan dikala menjelang Berbuka

Sayangnya, puasa masih diartikan sebagai ‘tabungan’, menahan sejenak untuk memastikan segala keinginannya wajib dipenuhi saat maghrib. Siang memang menahan, tapi ngabuburit akan mengumpulkan segala makanan yang sangat diinginkan. Bahkan hal yang membatalkan saat berpuasa boleh dilakukan saat berbuka nanti. Ini menjadi candaan orang-orang, emosinya ditahan dan bakal diluapkan saat maghrib tiba. Haha, ada ada saja ya akal-akalannya.

Oleh: Tanwirun Nadzir (Pegiat Kajian Sosial Keagamaan Piramida Circle) dan Mahasiswa Magister UIN Jakarta.

Continue Reading
Advertisement
To Top