Connect with us

Optimisme Politisi Muda

Opini

Optimisme Politisi Muda

veri-tangselTANGSELOKE.com- Bukanlah pemuda bila tampak lesu dan miskin gairah. Sejengkal perbedaan terlihat dari kobaran semangat yang dipunya. Pemuda selalu tegar. Segenap persoalan dijadikan tantangan untuk terus berjuang.

Itulah sekelumit gambaran yang melekat pada sosok H.Veri Muhlis Arifuzzaman, S.Ag.,M.Si. Politisi muda asal Sukabumi ini menyimpan segudang optimisme. Ia tak pernah menyerah dengan keadaan, juga tak gentar hadapi rintangan. Semangatnya tetap menyala terutama dalam melakukan perbaikan sosial.

Masalah sosial, terkait keumatan dan kebangsaan, memang jadi perhatian utama Veri. Hal ini tidak lepas dari latar belakangnya sebagai santri Daar el-Qalam dan alumni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Ciputat. Terutama di HMI, kesadarannya senantiasa digugah untuk berjuang menciptakan masyarakat adil dan makmur.

Semasa mahasiswa, Veri menyalurkan minatnya dengan berdiskusi sesama aktivis HMI. Ia juga aktif di forum kajian Formaci (Forum Mahasiswa Ciputat). Di sini ia belajar memahami narasi besar, menyejarah di lintasan alam pemikian dari zaman ke zaman. Teks-teks pemikiran sosial, politik, filsafat, dan keagamaan ia nikmati untuk kemudian didiskusikan secara seksama.

Selain itu, Veri juga kerap turun ke jalan menyuarakan aspirasi rakyat. Bersama teman-temannya ia ikut terlibat mengorganisasi massa dalam gerakan reformasi mahasiswa 1998. Hampir semua jenis kegiatan konsolidasi aksi melawan rezim totalitarian ia ikuti. Tak ada keraguan di benaknya. Rasa takut karena ancaman dibenamkan di bawah kuatnya keyakinan akan perubahan ke arah yang lebih baik.

“Kenapa saya aktif di himpunan juga kajian? Karena  waktu itu saya merasa tidak hanya dituntut untuk mengorganisasi massa, tetapi juga bertarung di wilayah perjuangan ide dan gagasan. Dua wilayah perjuangan ini penting untuk mewujudkan perubahan jangka panjang,” kata Veri saat ditemui di rumahnya, Pamulang, Tangerang Selatan, Kamis (23/8/).

Usai sarjana, kepedulian Veri terhadap kelompok terpinggirkan dijalankan dengan cara melakukan pemberdayaan sosial. Ia dipercaya menjadi Direktur HP2M (Himpunan untuk Penelitian dan Pengembangan Masyarakat) tahun 1999-2002. Ia juga pernah menjabat Direktur Program di Indonesian Institute for Civil Society (INCIS) 2002-2003.

“Di dua lembaga itu, perjuangannya lebih soft dan menyentuh langsung masyarakat. Banyak hal dilakukan seperti advokasi sosial, pendidikan demokrasi, diseminasi pemahaman keagamaan yang toleran, pelatihan peningkatan skill, penelitian, dan sebagainya,” terang Veri menjelaskan.

Veri memandang, pasca reformasi yang sering disebut masa transisi, negara butuh partisipasi masyarakat sipil untuk mengawal proses demokrasi. Dan, apa yang dilakukannya tidak lain dari bentuk partisipasi tersebut. (sumber: triknews.com)

Continue Reading
Advertisement
To Top