Connect with us

Tangani Banjir Tangsel Melalui Pendekatan Kawasan

Info SKPD

Tangani Banjir Tangsel Melalui Pendekatan Kawasan

drainase_tangselTANGSELOKE.com – Pemerintah Kota Tangerang Selatan mengembangkan pola penanganan banjir dengan menggunakan konsep bloking pemetaan wilayah. Bloking tersebut terdiri dari 31 titik lokasi dibagi dua bagian, dengan konsep penanganan yang berbeda.

Blok pertama terdiri dari tujuh blok yang penanganannya dengan mengurangi risiko banjir. Sedangkan blok kedua ada 24 blok yang penanganannya melalui penataan saluran drainase dan peningkatan kinerja sungai.

Untuk penanganan banjir melalui peningkatan kinerja sungai, Pemkot Tangsel tetap memanfaatkan daerah aliran sungai (DAS) yang melintas. Di antaranya, DAS Cisadane, DAS Angke dan DAS Pesanggrahan.

DAS Cisadane sendiri memiliki luas kurang lebih 1.411 kilometer persegi dengan panjang sungai 137,80 kilometer. Perkiraa curah hujan 2.000-3.500 milimeter per tahun masih bisa ditampung. Potensi air pada DAS ini cukup besar, yakni mencapai 67-950 meter kubik setiap detiknya. DAS ini alirannya mengarah ke bagian utara Tangsel, Kabupaten Tangerang serta Kota Tangerang. Sejauh ini potensi air DAS Cisadane dimanfaatkan untuk mengairi sawah seluas 10.230 hektare di Kabupaten Tangerang serta ruang terbuka hijau (RTH).

Kemudian ada DAS Angke dengan luas lebih kurang 945 kilometer persegi, panjang sungai 45 kilometer. Memiliki kesanggupan menampung hujan dengan curah 2.500-3.500 milimeter per tahun. Potensi airnya mencapai 42-105 meter kubik per detik. Mengalir ke bagian utara Kota Tangsel, Kota Tangerang dan DKI Jakarta. Sejauh ini pemanfaatannya untuk memenuhi kebutuhan air di wilayah pemukiman, perumahan dan RTH.

Terakhir adalah DAS Pesanggrahan yang luasnya mencapai kurang lebih 1.200 kilometer persegi dengan curah hujan 3.000 milimeter per tahun. Potensi airnya juga masih terbilang lumayan, 10-30 meter kubik per detik. Panjang sungai ini 60 kilometer. Mengalir ke wilayah utara Kota Tangsel dan DKI Jakarta. Sejauh ini pemanfaatan DAS Pesanggrahan lebih diperuntukkan kepada RTH.

Kepala Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (DBMSDA) Kota Tangsel, Retno Prawati, kepada TANGSELOKE.com menjelaskan, pihaknya mengidentifikasi permasalahan banjir yang melanda Tangsel. Dari identifikasi itu jelas ada beberapa poin. Banjir yang di Tangsel, akibat adanya genangan beberapa wilayah. Kemudian elevasi dasar sungai utama, cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan anak-anak sungainya. Kondisi itu menyebabkan terjadinya back water. Selanjutnya, adalah terjadi pelanggaran terhadap sempadan sungai atau saluran, yakni maraknya pembangunan pada daerah-daerah yang semestinya masuk sebagai penguasaan sungai.

“Kami juga mengidentifikasi, kondisi jaringan drainase jalan, permukiman dan lingkungan yang kurang baik ikut menjadi penyebab. Yang terparah adalah kapasitas tampung situ sudah berkurang,” katanya, Rabu (5/3/2014). Termasuk belum optimalnya sistem drainase khususnya di jalan, lingkungan perumahan dan permukiman.

Tak terkecuali, lanjut Retno-sapaan akrabnya, terjadi sedimentasi yang menyebabkan mengecilnya kapasitas sungai jika dibandingkan dengan debit banjir yang lewat.

Selain itu, ujarnya, penanganan sungai besar, Cisadane, Angke dan Pesanggrahan yang belum optimal. Maka dari itu, lanjut dia, salah satu konsep penanganan banjir Tangsel adalah dengan meningkatkan kinerja sungai-sungai besar.

Identifikasi masalah lainnya antara lain: sistem jaringan air masih memakai jaringan irigasi pola pembagian air, alih fungsi lahan dari daerah irigasi menjadi perumahan. Hal ini terlihat di beberapa lokasi di Parigi dan Ciputat.

“Pola aliran belum terintegrasi secara terpadu antara hulu-hilir, atau lintas wilayah administrasi,” tegas Retno. Selama penyusunan master plan drainase dan pengendalian banjir, pemkot sebelumnya masih melakukan penanganan yang sifatnya parsial. Kini, pendekatannya dilakukan lebih terpadu melalui pendekatan kawasan (blok banjir).

Banjir yang kerap terjadi di Kota Tangsel memiliki tipologi tersendiri. Banjir terjadi karena adanya kiriman atau luapan air sungai dari hulu. Seperti banjir di perumahan sekitar Sungai Angke, Cisadane, Pesanggrahan, Ciputat, Kedaung, Serua, Cibenda, Cantiga dan Ciater.

Pada konteks sarana dan prasarana, Retno mengakui titik banjir akibat buruknya kualitas drainase atau saluran drainase yang tidak terkoneksi dengan saluran drainase utama.

Berdasarkan data yang dirilis DBMSDA Tangsel, total panjang jalan drainase mencapai 405,663 kilometer. Dari panjang tersebut 243,40 kilometer kondisinya rusak. Jika dirinci: di Kecamatan Ciputat panjang jalan drainase 56,244 kilometer dengan kerusakan 33,75 kilometer, Kecamatan Ciputat Timur 59,095 kilometer dengan kondisi rusak 35,46 kilometer, Kecamatan Pamulang 85,653 kilometer yang rusak 51,39 kilometer. Selanjutnya di Kecamatan Pondok Aren panjang jalan drainase 96,203 kilometer. Sedangkan yang rusak 57,72 kilometer.

Di Kecamatan Serpong Utara 32,33 kilometer dengan kerusakan 19,40 kilometer, Kecamatan Serpong panjang 52,121 kilometer yang rusak 31,27 kilometer dan terakhir di Kecamatan Setu panjangnya 24,017 kilometer, rusak 14,41 kilometer.

Untuk pembagian blok banjir, TANGSELOKE.com menerima informasi terdiri dari blok Angke Hilir dengan 15 saluran. Beberapa di antaranya saluran Kampung Parigi, saluran Buaran dan saluran Kampung Jelupang. Blok sekunder Ciputat dengan jumlah 11 saluran di antaranya saluran Jalan Kepondang Raya dan Taman Bintaro. Blok Kedaung dengan 12 saluran, seperti saluran Komplek Villa Pamulang Mas dan Kelurahan Pamulang Barat. Blok catchment Ciputat Hulu ada sembilan saluran beberapa yakni saluran Komplek Batan, Perum Pondok Hijau, Pondok Cabe Ilir dan Perum Legoso Permai.

Adalagi Blok Sengkol enam saluran salah satunya saluran Citra Prima Serpong. Blok Pasar Jengkol tiga saluran antara lain Pasar Jengkol Puri, Pasar Jengkol Puri RW 01 dan saluran Serpong Paradise. Dilanjutkan dengan Blok Ciater Hulu dengan dua saluran, di Jalan AMD Babakan Pocis dan Perum Panorama Serpong.(adv)

[Not a valid template]

Continue Reading
Advertisement
To Top