Connect with us

Sejumlah Pengerukan Dilakukan, Situ di Tangsel Tidak Terdampak Kemarau Panjang

Info SKPD

Sejumlah Pengerukan Dilakukan, Situ di Tangsel Tidak Terdampak Kemarau Panjang

pengerukan_situ18.143.23.153- Dampak musim kemarau panjang tidak begitu dirasakan terhadap menurunnya debit air di situ-situ yang ada di Kota Tangerang Selatan (Tangsel). Sebagai saluran perkotaan, persoalan yang ada hanya menyangkut sedimentasi akibat pengendapan lumpur.

Berdasarkan pengamatan di lapangan terhadap sembilan situ di Kota Tangsel, terkecuali Kayu Antap yang masih berproses di pengadilan terkait status kepemilikan lahan antara warga dengan pemerintah pusat, delapan lainnya yakni Tujuh Muara, Sasak, Gintung, Parigi, Pondok Jagung, Rompong, Kuru, serta Bungur nampak dalam kondisi normal.

Tak terlihat adanya kekeringan seperti yang terjadi pada beberapa situ di sejumlah daerah saat musim kemarau panjang sekarang ini. Upaya pengerukan rupanya tengah dan selesai dilakukan di sebagian situ yang ada di Kota Tangsel.

Dijelaskan Kepala Bidang Bina Manfaat Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (DBMSDA) Kota Tangsel, Aji Awan, seluruh situ yang ada sifatnya sebagai fungsi pengendalian banjir. Untuk itu, inlet atau saluran masuk air ke situ berasal dari saluran pembuangan perkotaan.

“Jadi musim kemarau tidak begitu berpengaruh terhadap situ-situ di Kota Tangsel. Dahulu fungsinya memang untuk irigasi. Tapi berdasarkan perkembangan perkotaan, sekarang menjadi kearah pengendalian banjir,” terang Awan, Sabtu (3/10).

Lewat sifat tadi katanya, fenomena atau persoalan yang terjadi lebih kepada adanya pendangkalan situ. Hanya saja, pendangkalan yang terjadi bukan diakibatkan oleh menyusutnya kapasitas air, namun lantaran dipicu sedimentasi dari lumpur.

“Kadang terlihatnya saja dangkal, tapi jika lumpurnya kita keruk baru terlihat banyak airnya. Itu seperti yang terjadi di Situ Pondok Jagung, kemarin hampir seluruhnya ketutup lumpur dan tanaman liar. Tapi sekarang sudah kembali berfungsi normal setelah dilakukan pengerukan,” ujar Awan.

Tiap situ yang ada di Kota Tangsel memiliki kedalaman bervariatif. Hal itu berdasarkan kondisi cekungan yang membentuk situ. Menurut Awan, saat ini Situ Parigi dan Kuru dalam waktu dekat sudah perlu dilakukannya pengerukan. Lantaran di dua tempat tersebut, kondisi endapan lumpur sudah cukup tinggi.

“Ditanya kedalaman situ, pasti berbeda-beda. Karena bukan situ buatan, kedalamannya mengikuti cekungan tanah. Jadi makin besar cekungan, berarti ketinggian airnya makin dalam,” katanya.

Terpisah Kepala Bidang Sumber Daya Air DBMSDA Kota Tangsel, Ade Suprizal menambahkan, tiga pengerukan yang sedang berjalan dan baru selesai dikerjakan yaitu ada di Situ Pondok Jagung, Sasak, dan Tujuh Muara. Upaya terbesar adalah pengembalian fungsi 18 hektare lahan Situ Sasak yang sempat dialihfungsikan warga sekitar sebagai area bisnis pemancingan dan budidaya ikan.

“Hebatnya di Situ Sasak penertiban tidak ada ricuh sedikitpun. Jadi lahan situ tersisa kemarin hanya 7,1 hektare, kini kembali dapat berfungsi normal kembali. Begitu juga di Situ Pondok Jagung, disitu ada potensi lahan seluas sekitar tujuh hektare yang kembali. Sementara di Situ Tujuh Muara, pengerukan dilakukan di lahan satu hektare lebih untuk penataan aliran air mencegah banjir di pemukiman warga,” paparnya.

Berdasarkan pembahasan dengan pihak Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (BBWSCC) Direktorat Sumber Daya Air Kementerian PU selaku pemegang otoritas kelangsungan situ-situ yang ada, tahun ini proses revitalisasi juga akan dilakukan di Situ Parigi, rompong, dan Bungur.

“Di Situ Parigi dan Rompong akan dilakukan pengerukan. Sementara di Situ Bungur penataan sisi-sisi jalan dan taman. Sama Situ Kuru (revitalisasi) juga tahun ini kalau memang memungkinkan,” tutupnya. (to/sky)

Continue Reading
Advertisement
You may also like...
To Top