Connect with us

Mengungkap Fakta dan Sejarah Tangerang dari Puisi Rini Intama

BANTEN OKE

Mengungkap Fakta dan Sejarah Tangerang dari Puisi Rini Intama

Puisi tidak semata-mata sebagai karya sastra imajinatif dan hasil rekayasa teks penyair, namun puisi juga punya peran yang begitu penting dalam mengungkap dan menghidupkan kembali fakta-fakta sejarah di mana penyair itu hidup.

Demikian benang merah Pengajian Sastra yang digagas Komunitas Penulis Nyi Mas Melati (KPNM) di Aula Kelurahan Sukarasa, Kecamatan Tangerang, Kota Tangerang, Sabtu (7/1) siang. Pengajian Sastra mengangkat tema “Proses Kreatif Menulis Puisi Berbasis Sejarah”.

Pengajian Sastra menghadirkan tamu yang sangat istimewa, yakni Rini Intama, penyair sekaligus Juara Buku Kumpulan Puisi tingkat Nasional tahun 2016, dengan buku kumpulan puisinya bertajuk “Kidung Cisadane”.

Pengajian Sastra dipandu moderator Saeful Alabarokmak, M.Pd, dosen Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan (FKIP) Muhammaditah Tangerang (UMT).

 

“Saya menulis puisi sejarah Tangerang yang terangkum dalam kumpulan puisi Kidung Cisadane ini, risetnya sekitar dua tahunan,” ungkap Rini, yang juga aktif menulis cerita pendek (Cerpen) dan novel.

Menurut Rini, mengapa dirinya menulis tentang sejarah Tangerang dalam bentuk puisi, semata-mata karena cinta terhadap Tangerang dan sejarah Tangerang itu sangat menarik.

“Saya cinta Tangerang, makanya saya menulis puisi tentang sejarah Tangerang. Saya tuliskan juga catatan kaki dalam puisi saya, agar generasi muda saat ini paham bagaimana sejarah Tangerang itu. Saya tidak mau generasi Tangerang buta akan sejarahnya,” ujarnya.

Ketika ditanya puisi apa saja yang dia tulis yang berkaiatan dengan sejarah Tangerang itu, Rini memberi contoh puisi “Klenteng Tjo Soe Kong”, Rumahmu Kini, Kapitan Oei Dji San, dan Pecina Pasar Lama.

Selain itu ada juga puisi Masjid Jami Kalipasir, Ode bagi Masnah, Cokek, Klenteng Boen Tek Bio, Museum Benteng Heritage, Boen San Bio, Kidung Tanah Partikelir, dan Tanah Benteng.

 

“Setelah saya meraih juara buku kumpulan puisi melalui buku “Kidung Cisadane”, saya harus banyak belajar lagi dan berkarya lagi. Saya juga berharap buku ini bisa masuk sekolah agar para pelajar diTangerang mengenal sejarahnya,” ujarnya.

Pantauan di lokasi acara, sekitar 100 peserta antusias mengikuti Pengajian Sastra. Mereka datang dari berbagai kalangan seperti dari pelajar, mahasiswa, guru, komunitas, dan pemerhati sastra. Mereka juga aktif bertanya kepada Rini Intami.

Pengajian Sastra dibuka oleh pembacaan puisi oleh anggota KPNM Fikri Maulan Syiba dan Zaenal. Mereka membacakan puisi karya Rini Intami bertajuk “Kota Tua” dan “Kidung Cisadane”.

Di sela-sela Pengajian Satra juga diisi dengan pembacaan puisi dari para peserta. Mereka membacakan puisi secara bergantian. Dan sebelum acara ditutup disuguhkan pertunjukan monolog “Om Tisue Om” yang dimainkan aktris Pola Malinda.

Direktur Program Pengajian Sastra KPNM Siti Latipah, mengatakan setelah Rini Intama berbagi ilmu tentang menulis puisi berbasis sejarah, diharapkan muncul karya-karya puisi dari penulis-penulsi muda yang mengikuti jejak Rini Intama.

“Mohon doa setelah menghadirkan Rini Intama, kami akan menghadirkan narasumber yang juga kompeten dalam Pengajian Sastra berikutnya. Ini sebagai salah satu cara kami membangun Tangerang dengan sastra, khususnya puisi,” ujarnya. (sumber: tangselpos.co.id)

Continue Reading
Advertisement
You may also like...
To Top