Info Tangsel
Workshop Tari Geprak C-More di Tangsel, Kenalkan Tarian Baru yang Satukan Keberagaman
TANGERANG SELATAN — Sebanyak 60 peserta dari berbagai kalangan seni mengikuti Workshop Tari Geprak C-More yang digelar KSTT di Ruang Aspirasi DPRD Kota Tangerang Selatan. Kegiatan ini menjadi langkah awal memperkenalkan Tari Geprak C-More sebagai identitas budaya baru yang merepresentasikan semangat Cerdas, Modern, dan Religius.
Peserta workshop terdiri atas siswa sanggar, guru ekstrakurikuler tari, guru Seni Budaya, hingga pelatih sanggar tari dari berbagai wilayah di Kota Tangerang Selatan. Antusiasme mereka menunjukkan tingginya minat terhadap pelestarian seni tari daerah di tengah perkembangan budaya modern.
Anggota DPRD Kota Tangerang Selatan Komisi II, Dadang Darmawan, B.E., yang hadir membuka kegiatan, menyampaikan apresiasinya terhadap inisiatif tersebut. Menurutnya, ruang kreatif seperti workshop seni perlu terus didorong agar generasi muda memiliki wadah untuk berkarya sekaligus mengisi waktu dengan kegiatan yang positif.
“Kegiatan seperti ini menjadi investasi bagi masa depan anak-anak dan remaja. Seni budaya bukan hanya soal kreativitas, tetapi juga membentuk karakter dan rasa memiliki terhadap daerahnya,” ujarnya.
Tari Geprak C-More sendiri hadir dengan mengangkat kisah masyarakat Tangerang Selatan yang berasal dari beragam suku dan latar belakang. Perbedaan tersebut digambarkan bukan sebagai sekat, melainkan kekuatan yang menyatukan masyarakat dalam tujuan hidup yang sama, sejalan dengan semboyan Kota Tangerang Selatan: Cerdas, Modern, Religius.
Ketua Komunitas Seni Tari Tangerang Selatan (KSTT), Shanti Handayani, menjelaskan bahwa Tari Geprak C-More sebenarnya bukan tarian yang benar-benar baru diciptakan tahun ini. Tarian tersebut pertama kali diluncurkan pada perayaan Hari Ulang Tahun Kota Tangerang Selatan 2025 dalam Rapat Paripurna DPRD Kota Tangerang Selatan.
Sejak peluncuran perdananya, Tari Geprak C-More telah tampil di sejumlah kegiatan dan event di Kota Tangerang Selatan. Namun, menurut Shanti, tarian ini masih belum dikenal secara luas oleh masyarakat sehingga diperlukan upaya pengenalan yang lebih masif melalui workshop.
“Launching pertamanya saat HUT Tangsel 2025 di Rapat Paripurna DPRD. Setelah itu sudah tampil di beberapa event, tetapi memang belum terlalu dikenal. Karena itu kami mengadakan workshop agar masyarakat Tangsel tahu dan semakin mengenal Tari Geprak C-More,” tutur Shanti.
Melalui workshop ini, KSTT berharap Tari Geprak C-More tidak hanya dikenal, tetapi juga dipelajari dan dipentaskan secara luas oleh masyarakat. Para guru dan pelatih yang mengikuti kegiatan diharapkan dapat menjadi perpanjangan tangan untuk mengenalkan tarian tersebut di sekolah maupun sanggar masing-masing.
Penyelenggara menilai pelestarian budaya harus dimulai sejak usia dini. Di tengah derasnya pengaruh budaya global, menghadirkan aktivitas seni yang menarik bagi Generasi Z menjadi salah satu cara efektif untuk menumbuhkan kecintaan terhadap budaya lokal.
Shanti juga mengungkapkan bahwa KSTT telah merancang pertunjukan Tari Geprak C-More secara massal sebagai bagian dari rangkaian Hari Ulang Tahun Kota Tangerang Selatan 2026. Rencana tersebut telah dibahas bersama Dinas Pendidikan Kota Tangerang Selatan, termasuk mendapat dukungan dari Pak Sugeng, dan akan dikawal hingga pelaksanaannya pada November mendatang.
Dengan terselenggaranya Workshop Tari Geprak C-More, Tangerang Selatan kembali menunjukkan komitmennya dalam merawat keberagaman melalui seni, sekaligus membuka ruang bagi lahirnya generasi muda yang kreatif dan bangga terhadap budaya daerahnya.(Adt)
