Connect with us

Pasien Covid-19 Imbau Masyarakat Yang Terpapar Untuk Jujur

Info Tangsel

Pasien Covid-19 Imbau Masyarakat Yang Terpapar Untuk Jujur

Salah satu penderita yang menjadi pasien covid-19 memilih dirinya untuk tetap bisa mengurus keluarganya dengan mengkarantinakan dirinya sendiri bersama suami dan ketiga anaknya di wilayah Kecamatan Setu, Serpong, Tangsel.

Setelah dirinya di nyatakan kembali terpapar covid 19 oleh puskesmas setempat melalui hasil swab. Pasien yang berstatus ibu rumah tangga tersebut menceritakan bagaimana perjuangannya melawan covid 19 di tengah penderitaannya menahan sakit.

Meski ia tak keberatan namanya di tulis, namun tangseloke.com tetap merahasiakannya demi kenyamanan pembaca setia media online.

Ia mengutarakan, betapa pedihnya ia di serang virus ganas tersebut hingga dirinya tak bisa bernafas dan merasakan lemah tak berdaya untuk menggerakan tubuh, tangan hingga kakinya.

“Saya hanya berfikir bahwa saya seorang ibu yang kuat, dan harus sanggup mengurus kebutuhan anak saya di rumah mas. Tekad dan doa itu yang membuat saya bisa bertahan dengan serangan sakit yang tidak biasa saya rasakan. Sakit mas,” ungkapnya.

Ia menambahkan, menurutnya covid 19 itu penyakit musiman, dan hanya keyakinanlah yang bisa menyembuhkan kondisi kesehatan pada orang tersebut.

“Saya sudah 2 x positif covid-19. Yang pertama di pertengahan tahun 2019 dan bulan ini 2020. Jujur, yang pertama jauh lebih sakit daripada yang kedua. Tapi bayang bayang wajah ketiga anak saya menyemangati agar saya mampu keluar dari kemampuan saya sendiri. Tentunya juga berkat bantuan doa kepada tuhan,”tuturnya

Kepada tangseloke.com melalui sambungan WhatsAppnya ia menghimbau kepada sesama penderita covid, agar berani untuk jujur terhadap kondisi kesehatannya, Rabu (9/9/2020).

“Pola kebiasaan harus bisa kita rubah, inikan musiman. Saya mohon kepada sesama pasien untuk terbuka kepada tim medis agar masa pandemi ini bisa kita lewati demi keberlangsungan mahluk hidup yang lain di dunia ini,” tambahnya.

Pola kebiasaan yang di maksudnya adalah aktifitas kesehariannya terpaksa harus di rubah. Pasalnya, ketika orqng tersebut menyadari bahwa dirinya ikut terpapar harus memiliki jiwa besar untuk menerima dan jujur kepada tim medis. Bukan karena takut di kucilkan, namun lebih untuk mengantisipasi agar masa sulit pandemi lekas berakhir.

“Jujurlah, kalau memang ada gangguan pada tubuh silahkan periksakan. Saya bisa saja keluar rumah dan beraktifitas seperti biasanya, toh tidak ada yang larang. Tapi saya sadar itu dapat memperburuk keadaan, bahkan bisa menghentikan keberlangsungan mahluk hidup di dunia,” paparnya lagi.

“Tolong, masa depan anak anak kita lebih penting daripada nyawa kita sendiri. Alangkah tidak adil melibatkan orang lain dengan penderitaan yang sepatutnya tak di rasakan,” ucapnya.

Kurang lebih keluarganya menghabiskan waktu tiga (3) bulan dengan mengurung diri di rumah sewanya. Ia hanya berharap kepada pemerintah, agar mengirimkan bantuan berupa vitamin agar anak-anaknya tidak terpapar dan mengalami nasib serupa dengannya.

“Saat ini kami butuh vitamin untuk anak-anak. Gelas, piring dan bajunyapun saya pisahkan, mereka mencucinya masing-masing, dan tidak akan saya sentuh barang atau tubuh mereka, mereka masih bersekolah online, kuotapun terbatas. Saya tidak tahu lagi sampai kapan keadaan ini selesai. Saya pasrah, tapi saya akan melawan terus virus tersebut hingga nafas terakhir,” tandas ibu rumah tangga keturunan tionghoa. (Adt).

Continue Reading
Advertisement
To Top