Connect with us

Konflik di Wamena Bukan Dampak Positif

Deby Putri Wulandari, Mahasiswi FISIP Universitas Muhammadiyah Jakarta

Opini

Konflik di Wamena Bukan Dampak Positif

Oleh: Deby Putri Wulandari (Mahasiswi FISIP Universitas Muhammadiyah Jakarta)

Senin 23 September 2019, Indonesia terjadi 2 peristiwa besar yang mungkin tidak dapat dilupakan oleh rakyat Indonesia. Kedua peristiwa besar ini membuat mata kita terbuka bahwa Negara Indonesia saat ini tidak sedang baik baik saja. Pertama, demonstrasi yang melibatkan ratusan ribu Mahasiswa dari aliansi BEM seluruh Indonesia menyuarakan aspirasinya dengan menolak RUU KHUP dan RUU KPK di depan gedung DPR yang menjadi kontroversi. Dan yang kedua, kembali terjadi konflik di Papua tepatnya di Wamena yang menimbulkan korban dengan sekala besar dan menyebabkan ribuan orang mengungsi. Konflik di Wamena ini juga menjadi perbincangan yang hangat oleh rakyat Indonesia. Yang sebelumnya juga terjadi konflik di Papua akibat provokasi yang dilakukan oleh kelompok tertentu. Bahkan sampai membuat masyarakat papua menyerahkan bendera merah putih yang artinya papua ingin keluar dari Indonesia.

Konflik di Wamena ini sama seperti konflik di Papua pada saat itu, yang disebabkan adanya provokasi dari kelompok tertentu. Tetapi banyak berspekulasi penyebab konflik di Wamena ini karena adanya masyarakat pendatang yang membuat masyarakat asli Wamena marah dan juga merupakan konflik etnis. Aparat TNI dan Presiden menegaskan konflik ini bukan konflik etnis atau pun masyarakat pendatang dengan masyarakat asli Wamena. Penyebab sebenarnya konflik di Wamena ini murni karena adanya kelompok tertentu (kelompok bersenjata) yang melakukan provokasi dan memanfaatkan situasi sehingga membuat masyarakat wamena marah dan terjadinya konflik. Kericuhan ini terjadi akibat berita hoaks yang disampaikan oleh kelompok bersenjata kemudian kelompok tersebut melakukan pembakaran-pembakaran di kota Wamena dan penyerangan di sekolah-sekolah. Tentunya kerusuhan ini membuat masyarakat cemas, takut, dan trauma. Terutama kepada anak-anak dan wanita. Konflik di Wamena ini tidak memiliki dampak positif apapun, justru banyaknya dampak negatif atas peristiwa ini. Hanya menimbulkan korban jiwa, kerugian materiil-materiil dan trauma yang begitu dalam bagi masyarakat Wamena maupun masyarakat pendatang.

Senin 30 September 2019, Kondisi Wamena saat ini sudah kondusif. Masyarakat Indonesia dari beberapa kota sudah mulai meninggalkan kota Wamena untuk menyelamatkan diri. Tidak ada lagi pembakaran-pembakaran maupun kericuhan seperti waktu itu. Konflik di Wamena juga harus menjadi fokus perhatian bagi pemerintah Indonesia bukan masalah ekonomi atau pembangunan yang difokuskan saat ini. Karena Tragedi di Wamena sungguh disayangkan karena menyangkut HAM (Hak Asasi Kemanusian). Akan sulit mencari jalan keluar apabila pemerintah Indonesia tidak fokus menangani konflik di Papua. Karena konflik di Papua ini bukan terjadi satu kali tetapi sudah dua kali konflik besar tahun ini. Tentunya tidak ingin kembali terjadi konflik berkepanjangan yang membuat Indonesia darurat. Penyelesaiannya juga harus melalui berdialog untuk membentuk komitmen agenda antar masyarakat lokal dengan presiden dan pemerintah lokal sehingga konflik Papua ini tidak hanya berfokus pada isu-isu saja.

Persatuan Indonesia adalah sila ketiga, kalimat mahal penuh makna yang tidak dapat dibayar atau diganti dengan apapun. Pesan untuk masyarakat Indonesia dimanapun berada, jangan mudah terprovokasi yang menyebabkan Indonesia pecah, baik dari segi agama, sosial, etnis, dan lain-lain. Karena sekarang jaman digital, yang artinya semua orang dapat menerima informasi dari manapun, kita tetap harus terlebih dahulu menyaring berita dan tahu mana berita bersifat provokasi dan bukan. Karena tujuan dari orang yang provokasi adalah membuat Indonesia pecah belah dan tidak ingin bersatu. Konflik di Wamena menjadi pelajaran buat kita dan menjadi konflik yang terakhir di Indonesia. Tidak ada lagi konflik-konflik di kota manapun apalagi sampai memakan korban jiwa yang dihabisi oleh satu darah sendiri. Papua adalah Indonesia yang harus kita jaga dan rangkul keindahan alamnya dan masyarakatnya. (***)

Continue Reading
Advertisement
Advertisement

Info SKPD

To Top