Ciputat
Pilar Ingatkan Bahaya Gawai bagi Anak, Minta Orang Tua dan Guru Berkolaborasi
CIPUTAT — Wakil Wali Kota Tangerang Selatan, Pilar Saga Ichsan, mengingatkan ancaman serius yang dihadapi anak-anak di era digital. Mulai dari paparan konten negatif di media sosial, perundungan (bullying), hingga risiko kekerasan seksual di lingkungan sekolah.
Menurut Pilar, perkembangan teknologi yang masif membuat pola pengasuhan (parenting) tidak bisa lagi mengandalkan cara-cara lama, melainkan harus berbasis kedekatan emosional.
“Anak-anak hari ini tumbuh di dunia digital yang sangat cepat dan penuh pengaruh. Karena itu, pola pengasuhan perlu dibarengi dengan pemahaman, komunikasi, keteladanan, serta kedekatan emosional di dalam keluarga,” ujar Pilar saat menghadiri Seminar Parenting Nasional oleh Yatim Mandiri di Gedung Blandongan Puspemkot Tangsel, Rabu (13/5/2026).
Di hadapan ratusan guru dan kepala sekolah, Pilar meminta para orang tua lebih ketat mengawasi penggunaan gawai dan membatasi akses internet anak. Ia menekankan bahwa anak-anak adalah peniru yang sangat cepat.
“Jangan sampai mereka terpapar konten tidak pantas atau kata-kata buruk dari gawainya. Kita perlu hadir untuk mengawasi itu,” tegasnya.
Meski demikian, Pilar menyebut teknologi digital tidak bisa dihindari karena krusial untuk daya saing generasi muda di era kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
“Kalau tidak menggunakan teknologi, kita tertinggal. Tetapi dampaknya yang negatif harus kita bendung, sedangkan yang positif diarahkan,” cetusnya.
Selain gawai, Pilar menyoroti maraknya kasus bullying dan kekerasan terhadap anak. Guna mengantisipasi hal itu, Pemkot Tangsel telah mendeklarasikan program Sekolah Aman dan Nyaman.
“Kalau bercanda tidak masalah, tetapi kalau sudah bullying itu berbahaya. Korban bisa kehilangan rasa percaya diri, sementara pelaku bisa terbiasa melakukan kekerasan hingga dewasa,” kata Pilar.
Ia juga menyinggung pentingnya kewaspadaan terhadap potensi kekerasan seksual pada anak. Pilar mendorong agar pendidikan seksual dasar diberikan sejak dini agar anak memahami batasan tubuh dan berani melapor jika mengalami tindakan tidak pantas.
“Pendidikan seksual bukan mengajarkan hal negatif, tetapi mengenalkan bagian tubuh mana yang tidak boleh disentuh orang lain,” jelasnya.
Di sisi lain, Pilar mengajak para tenaga pendidik untuk meninggalkan pola pendidikan konvensional yang identik dengan kekerasan fisik atau pendekatan yang menakutkan.
“Sekarang zamannya berbeda. Guru bukan untuk ditakuti, tetapi menjadi pengayom. Anak-anak sekarang lebih kritis dan berani menyampaikan pendapatnya,” tutur Pilar.
Ia menegaskan, kolaborasi antara keluarga, sekolah, pemerintah, dan lembaga sosial menjadi kunci utama dalam membangun generasi muda yang cerdas dan berkarakter.
Editor : Hary






