Info Tangsel
Ribuan Pria Terdata dalam Program Penjangkauan, Dinkes Tangsel Perkuat Strategi Pencegahan HIV/AIDS
CIPUTAT — Upaya penanggulangan HIV dan AIDS di Kota Tangerang Selatan terus menjadi perhatian berbagai pihak.
Sepanjang periode Januari hingga November 2025, sekitar 1.300 pria tercatat mengikuti program penjangkauan dan pemeriksaan kesehatan terkait HIV/AIDS. Dari jumlah tersebut, puluhan orang diketahui telah terkonfirmasi positif AIDS berdasarkan hasil tes medis.
Data tersebut dihimpun oleh Aliansi Masyarakat Sehat Kota Tangerang Selatan melalui kegiatan skrining dan pendampingan kesehatan yang menyasar kelompok dengan risiko penularan lebih tinggi.
Temuan ini sekaligus menunjukkan pentingnya pendekatan berbasis pencegahan dan deteksi dini dalam menekan laju penyebaran HIV/AIDS.
Aktivis Aliansi Masyarakat Sehat Tangsel, Iman Permana, menyampaikan bahwa hasil penjangkauan ini perlu disikapi secara bijak dan proporsional.
Menurutnya, penularan HIV tidak berkaitan dengan identitas atau orientasi seseorang, melainkan erat hubungannya dengan perilaku berisiko, seperti hubungan seksual tanpa pengaman dan penggunaan jarum suntik secara bergantian.
“Karena itu, fokus utama penanganan harus diarahkan pada edukasi berkelanjutan, pemeriksaan rutin, serta memastikan akses pengobatan antiretroviral dapat dijangkau oleh semua yang membutuhkan,” ujarnya.
Iman menambahkan, pendekatan tanpa stigma dan diskriminasi menjadi kunci agar upaya pencegahan berjalan efektif. Dengan lingkungan yang suportif, orang dengan HIV/AIDS (ODHA) diharapkan tidak ragu untuk memeriksakan diri serta menjalani pengobatan secara konsisten.
Sejalan dengan hal tersebut, Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan membenarkan bahwa hingga kini, temuan kasus HIV/AIDS masih banyak berasal dari kelompok yang dikategorikan sebagai populasi kunci.
Kepala Dinas Kesehatan Tangsel, Dr. Allin Hendalin Mahdaniar, menjelaskan bahwa hal ini tidak terlepas dari intensitas penjangkauan yang dilakukan secara aktif oleh pemerintah maupun lembaga masyarakat.
“Sebagian besar data yang kami miliki berasal dari kegiatan penjangkauan dan pemeriksaan yang dilakukan secara langsung di komunitas,” ungkapnya saat dikonfirmasi.
Ia menjelaskan bahwa strategi penjangkauan mencakup pemeriksaan kesehatan, konseling, serta edukasi pencegahan HIV/AIDS. Pendekatan ini dinilai efektif karena memungkinkan deteksi lebih awal, sekaligus membuka akses pendampingan dan pengobatan bagi mereka yang terdiagnosis.
Menurut Allin, tingginya angka temuan pada kelompok tertentu tidak dimaksudkan sebagai pelabelan negatif. Justru, data tersebut menjadi dasar penting dalam menyusun kebijakan dan program pencegahan yang lebih tepat sasaran.
“Informasi ini kami gunakan untuk memperkuat strategi pencegahan dan layanan kesehatan, bukan untuk menciptakan stigma,” tegasnya.
Pemerintah daerah bersama berbagai pemangku kepentingan terus mendorong peningkatan kesadaran masyarakat melalui edukasi kesehatan reproduksi, pemeriksaan HIV secara sukarela, serta perluasan akses pengobatan bagi ODHA. Selain itu, masyarakat juga diajak berperan aktif dengan menghindari perilaku berisiko dan mendukung upaya penghapusan stigma terhadap penderita HIV/AIDS.
Langkah kolaboratif antara pemerintah, komunitas, dan masyarakat diharapkan mampu menekan angka penularan sekaligus meningkatkan kualitas hidup ODHA di Kota Tangerang Selatan.(Adt)





