Info Tangsel
Dinilai Rusak Jalan dan Picu Banjir, Proyek Instalasi Air PT PITS di Ciputat Disetop DPRD Tangsel
Anggota Komisi IV DPRD Kota Tangerang Selatan, Julham Firdaus, melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke Jalan Merpati Raya, menyusul keluhan warga terkait galian pipa air yang dinilai merusak badan jalan dan berpotensi memicu banjir.
Dalam sidak tersebut, Julham Firdaus menegur keras pengawas pekerjaan dari PT PITS. Ia menilai pelaksanaan proyek tidak sesuai prosedur karena minim koordinasi serta tidak dilengkapi dokumen dan rambu kerja yang semestinya.
“Tidak ada koordinasi, tidak ada tembusan, tidak ada pita acara, tidak ada penutup galian. Ini jalan aspal dibangun dari pajak rakyat, sekarang rusak karena urusan bisnis,” tegas Julham di lokasi, Kamis (26/2-2026).
Julham juga menyoroti metode penggalian yang dilakukan tepat di atas aspal, bukan di badan jalan sebagaimana mestinya.
Menurutnya, kondisi tersebut membahayakan pengguna jalan.
“Kalau besok saya lewat terus jeblok, bisa celaka. Ini harus dihentikan,” ujarnya.
Politikus Demokrat Komisi IV itu menekankan, sebagai badan usaha milik daerah (BUMD) maupun mitra pemerintah daerah, pelaksana proyek seharusnya menjadi contoh dalam kepatuhan aturan. Ia meminta seluruh aktivitas dihentikan sementara hingga ada perbaikan menyeluruh dan penambahan pengamanan di sepanjang lokasi galian.
Saya pastikan hari ini tidak ada pekerjaan lagi. Semua alat berhenti. Jalan ini kita bangun, kita rawat. Jangan dirusak,” kata Julham.
Selain kerusakan jalan, Julham mengingatkan dampak lingkungan dari galian yang berulang, terutama potensi banjir akibat saluran yang terganggu. Ia meminta pihak pelaksana bertanggung jawab penuh dan segera memulihkan kondisi jalan sesuai standar teknis.
Pekerjaan galian pipa air yang dikerjakan oleh BUMD PT PITS masih menuai sorotan publik. Di lapangan, ditemukan sejumlah titik galian yang tidak ditutup sebagaimana mestinya. Pekerjaan itu dinilai tidak sesuai prosedur, sehingga berpotensi membahayakan pengguna jalan serta memicu genangan air saat hujan.
Saat meninjau langsung lokasi galian di Jalan Merpati Raya, Julham Firdaus (JF) yang didampingi Mamat, Camat Ciputat, memberikan peringatan tegas kepada pihak pelaksana proyek.
Menurut Julham, pelaksanaan pekerjaan tersebut minim koordinasi dengan unsur wilayah dan tidak memenuhi kelengkapan administrasi lapangan.
“Enggak ada koordinasi, enggak ada tembusan, enggak ada pita acara, enggak ada penutup galian, pak camat harus berani. Kalau enggak berani, enggak perlu di sini. Ini banjir lagi, banjir lagi, banjir lagi,” tegas Julham di lokasi, menyoroti dampak langsung galian terbuka terhadap potensi banjir dan keselamatan warga.
Camat Ciputat Mamat, SE., MM menambahkan, setiap pekerjaan galian utilitas wajib mengikuti prosedur teknis dan administratif, termasuk pemberitahuan resmi kepada kecamatan, pemasangan rambu keselamatan, serta penutupan kembali galian sesuai standar.
Ia meminta PT PITS segera melakukan perbaikan dan memastikan area terdampak dikembalikan ke kondisi semula. Warga sekitar juga mengeluhkan galian yang dibiarkan terbuka dan tidak rata, karena mengganggu aktivitas keseharian dan meningkatkan risiko kecelakaan, terutama saat malam hari ataupun ketika hujan turun.
Mereka berharap pengawasan terhadap proyek-proyek utilitas diperketat agar tidak merugikan masyarakat.
Julham menegaskan, sebagai BUMD daerah, PT PITS seharusnya menjadi contoh dalam kepatuhan terhadap aturan dan tata kelola proyek.
“Justru BUMD harus mencontohkan kepada yang lain. Jangan sampai masyarakat dirugikan,” ujarnya.
Sebelumnya, Kondisi jalan terlihat semrawut dan kurang tertata. Berdasarkan pantauan di lokasi, penggalian dilakukan di beberapa titik sepanjang ruas jalan. Bekas lubang galian terlihat memanjang mengikuti jalur pipa yang ditanam.
Material tanah hasil kerukan dibiarkan menggunung. Pemandangan ini mengubah wajah jalan yang sebelumnya relatif rapi.
Tanah hasil galian itu ditumpuk di sisi jalan tanpa penataan memadai.
“Galian-galian seperti ini harusnya ditertibkan, karena benar-benar mengganggu pengguna jalan,” ujar Miko, pengemudi Ojek online, Kamis (26/02/26).
Di beberapa titik, tumpukan bahkan melebar hingga memakan badan jalan. Kondisi tersebut membuat ruang kendaraan yang melintas menjadi lebih sempit. Pengguna jalan pun harus ekstra hati-hati saat melintas.
“Kalau hujan itu lebih rawan pak, tanah itu meluber ke permukaan jalan sehingga jadi licin,” ucapnya.
Tidak sedikit pengendara sepeda motor yang terlihat memperlambat laju kendaraannya. Mereka harus menghindari gundukan tanah maupun pecahan aspal. Situasi ini berpotensi menimbulkan kecelakaan, terutama pada malam hari.
Selain menggali tanah, para pekerja juga membongkar permukaan aspal. Pembongkaran dilakukan untuk menarik dan memasang jaringan pipa air bersih. Bekas kupasan aspal tampak kasar dan belum dirapikan kembali.
Hal ini menambah kesan amburadul di sepanjang ruas jalan.
Puing-puing aspal yang dijebol turut ditumpuk di pinggir jalan. Material tersebut bercampur dengan tanah galian. Di beberapa lokasi, serpihan aspal berserakan hingga ke badan jalan. Kondisi ini memperburuk kenyamanan dan keselamatan pengguna jalan.
Ironisnya, ruas Jalan Merpati tersebut belum lama ini diketahui telah dilakukan pengaspalan oleh dinas terkait. Permukaan jalan sebelumnya tampak mulus dan layak dilalui. Namun kini, kondisi itu kembali berubah akibat proyek penggalian.
“Ini aspal kan belum lama baru diperbaiki, sekarang dijebol begini. Coba pemerintah turun, ditertibkan proyek begini,” ungkap Sandi, warga sekitar yang terganggu dengan proyek galian tersebut.
Sepanjang ruas jalan, material tanah tampak mengotori permukaan aspal. Saat dilintasi kendaraan, debu berpotensi beterbangan, terutama di cuaca kering. Jika turun hujan, tanah tersebut bisa berubah menjadi lumpur. Situasi ini tentu mengganggu aktivitas warga sekitar.
Penyempitan badan jalan juga berdampak pada kelancaran arus lalu lintas. Kendaraan dari dua arah harus bergantian saat melintas di titik tertentu. Potensi kemacetan pun tidak dapat dihindari.
Kondisi ini menimbulkan pertanyaan soal manajemen pelaksanaan proyek.
Warga berharap pihak pelaksana proyek segera melakukan penataan ulang dan pembersihan area.
Hingga berita ini diturunkan, pihak PT PITS belum memberikan keterangan resmi terkait temuan di lapangan dan langkah perbaikan yang akan dilakukan. Pemerintah kecamatan memastikan akan terus memantau dan berkoordinasi agar pekerjaan galian pipa air tersebut segera dituntaskan sesuai prosedur yang berlaku. (Adt/One/bli)
