Connect with us

TangselOke

Setahun Andra Soni: Dari Jalan Desa hingga Sekolah Gratis, Arah Baru Pembangunan Banten

Info Tangerang

Setahun Andra Soni: Dari Jalan Desa hingga Sekolah Gratis, Arah Baru Pembangunan Banten

Pagi di selatan Banten tak lagi sama seperti beberapa tahun lalu. Di sejumlah desa di Pandeglang dan Lebak, jalan yang dulu berlubang dan becek kini mulai mulus dilalui kendaraan pengangkut hasil bumi. Kelapa, pisang, padi, hingga ikan segar tak lagi terhambat waktu tempuh yang panjang.

Perubahan itu menjadi salah satu potret dari setahun kepemimpinan Gubernur Banten, Andra Soni.

Pengamat kebijakan publik dari Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Teguh Aris Munandar, menilai eksekusi program Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten di bawah komando Andra Soni menunjukkan pergeseran pendekatan pembangunan.

“Ada perubahan paradigma. Tahun ini lebih fokus pada pembangunan berbasis kebutuhan, bukan sekadar berbasis anggaran,” ujarnya, Jumat (13/2/2026).

Jalan Desa dan Akses Ekonomi

Program Bangun Jalan Desa Sejahtera atau Bang Andra menjadi salah satu yang paling terasa dampaknya. Jalan desa bukan sekadar infrastruktur fisik, tetapi penghubung antara ladang dan pasar, antara produksi dan distribusi.

Di wilayah selatan Banten, akses yang lebih baik membuat hasil pertanian dan perikanan bisa sampai ke pasar dalam kondisi lebih segar dan harga lebih kompetitif. Secara perlahan, denyut ekonomi desa ikut bergerak.

Data 2025 menunjukkan Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE) Banten mencapai 5,37 persen. Angka kemiskinan dan pengangguran pun mengalami penurunan. Meski pertumbuhan ekonomi dipengaruhi banyak faktor, Teguh melihat pembangunan infrastruktur desa sebagai salah satu katalis penting.

Lebih dari itu, program ini dinilai membantu mengikis disparitas antara Banten utara dan selatan—wilayah yang selama ini kerap disebut tertinggal dalam akses pembangunan.

Sekolah Gratis yang Menjangkau Lebih Luas

Tak hanya infrastruktur, kebijakan pendidikan juga menjadi sorotan. Jika program sekolah gratis sebelumnya cenderung berfokus pada sekolah negeri, Andra Soni mengambil langkah berbeda dengan merangkul 801 SMA, SMK, dan SKh swasta.

Sekitar 60.705 siswa yang tidak tertampung di sekolah negeri kini mendapat akses pembiayaan yang lebih ringan.

“Dampaknya signifikan bagi keluarga kurang mampu yang terpaksa masuk swasta karena keterbatasan kuota negeri,” kata Teguh.

Bagi sebagian orang tua, kebijakan ini bukan sekadar angka statistik. Ia berarti pengurangan beban biaya bulanan, kesempatan anak untuk tetap bersekolah, dan harapan akan mobilitas sosial yang lebih baik.

Tahun Pembuktian

Setahun pertama pemerintahan sering disebut sebagai fase pembuktian. Teguh menilai, langkah-langkah yang diambil Andra Soni menunjukkan arah yang lebih terukur dan spesifik.

Namun, ia mengingatkan bahwa tantangan sesungguhnya justru ada di depan.

“Tahun pertama adalah pembuktian komitmen. Tahun kedua adalah ujian konsistensi dan pengawasan. Program yang tepat sasaran harus dijaga keberlanjutannya,” ujarnya.

Di tengah dinamika fiskal dan tuntutan publik yang terus berkembang, keberlanjutan program menjadi kunci. Pembangunan bukan hanya soal membangun jalan atau membebaskan biaya sekolah, tetapi memastikan dampaknya bertahan dan berkembang.

Bagi sebagian warga desa yang kini menikmati jalan lebih layak, atau orang tua yang tak lagi cemas memikirkan uang sekolah, perubahan itu sudah terasa nyata. Pertanyaannya kini bukan lagi apakah arah kebijakan sudah tepat, melainkan seberapa jauh ia akan terus dijaga agar tetap berada di jalurnya.

Dan di situlah babak berikutnya pembangunan Banten akan diuji.

Editor: Hary

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
Exit mobile version