Connect with us

TangselOke

Diduga Konstruksi Bermasalah, Longsor di Nara Village Pamulang Hantam Rumah Warga Harmonia

Info Tangsel

Diduga Konstruksi Bermasalah, Longsor di Nara Village Pamulang Hantam Rumah Warga Harmonia

Tangerang Selatan — Longsor yang terjadi di badan jalan perumahan Klaster Naraya berdampak serius terhadap tiga (3) unit rumah warga RW 17 RT 03 Perumahan Harmonia. Runtuhan tanah dan bangunan dari area atas jalan perumahan tersebut merusak lingkungan warga di bawahnya serta memicu kekhawatiran akan keselamatan permukiman sekitar.

Salah satu warga terdampak, Tarmiji, warga RW 17 RT 03, mengatakan peristiwa longsor terjadi pada Kamis sekitar pukul 10.20 WIB. Saat itu dirinya baru meninggalkan lokasi beberapa menit sebelumnya.

“Jam 10 lewat saya masih di sini. Tidak lama setelah saya pergi, tukang saya menelepon dan bilang tanah di belakang rumah longsor,” ujar Tarmiji saat ditemui di lokasi, Pamulang (27/1/2026)

Longsoran tersebut berasal dari badan jalan perumahan Klaster Naraya Village yang berada di wilayah RW berbeda. Sementara area terdampak berada di Perumahan Harmonia RW 17. Menurut Tarmiji, kejadian ini sebenarnya sudah ia prediksi sejak awal pembangunan.

“Saya sudah ingatkan dari awal. Turapnya berdiri tegak lurus, menurut saya itu berbahaya. Saya sudah pernah diskusi, komplain, kasih saran, tapi tidak digubris,” katanya.

Ia menjelaskan, struktur turap yang dibangun dinilai tidak sesuai standar teknis. Selain itu, sistem konstruksi dinilai keliru karena pengeboran bor pile (borpel) dilakukan setelah turap berdiri, bukan sebaliknya.

“Turap dibuat dulu, baru dibor. Akibatnya retak. Itu sudah kesalahan fatal. Perbaikannya pun hanya diplester, bukan diperkuat strukturnya,” jelasnya.

Tarmiji juga menyoroti tidak adanya besi tulangan dan tiang pancang yang memadai pada bangunan penahan tanah tersebut.

“Besi hampir tidak ada. Tiang pancang tidak ada sama sekali. Saya sudah bilang ini berbahaya, tapi diabaikan,” ungkapnya.

Selain persoalan konstruksi, saluran pembuangan air dari kawasan atas juga diketahui memanfaatkan drainase milik warga RW 17 yang dibangun secara swadaya.

“Itu drainase warga, dibangun pakai dana sendiri. Saya sudah bilang, kalau mau pakai harus diperbesar. Tapi tetap dibuang ke sini,” katanya.

Akibat kejadian ini, sekitar 30 rumah di RT 03 terdampak langsung, termasuk rusaknya sumber air bersih warga. Pipa air dilaporkan patah dan menyebabkan pasokan air terhenti hingga ke area ruko di depan perumahan.

“Ini satu sumber air untuk satu RT. Sekarang rusak semua,” ujar Tarmiji.

Dampak nonfisik juga dirasakan keluarga korban. Tarmiji mengaku terpaksa mengungsikan keluarganya karena trauma, terutama anak-anak, lantaran dinding turap kini bersandar langsung ke rumahnya. Aktivitas usahanya pun ikut terganggu.

“Keluarga saya mengalami trauma, anak-anak ketakutan. Saya juga punya usaha isi ulang air dan gas, sekarang terhambat. Ada empat orang yang bergantung dari situ,” tuturnya.

Warga sempat mencoba melakukan mediasi dengan pihak pengembang. Namun, menurut Tarmiji, upaya tersebut belum menunjukkan hasil nyata.

“Jawabannya selalu ‘kami bertanggung jawab’, tapi dari awal pembukaan lahan sampai sekarang tidak pernah ada tanggung jawab yang benar-benar nyata,” katanya.

Ia menilai penanganan yang ditawarkan pihak pengembang tidak masuk akal dan tidak menyelesaikan persoalan mendasar. Karena itu, warga memilih menempuh jalur hukum.

“Menurut saya ini sudah masuk ranah pidana. Tidak ada pengamanan, konstruksi asal-asalan. Ini bom waktu, dan sekarang meledak,” tegasnya.

Saat media ingin mengkonfirmasi pengembang perumahan dikantor pemasaran, yang bersangkutan sedang tidak berada di lokasi. Menurut petugas yang sedang membersihkan puing-puing material, pihaknya hanya di berikan intruksi untuk membersihkan hingga batas terdampak.

“Saya hanya disuruh untuk merapihkan runtuhan sampai batas pondasi. Informasinya akan ada penanganan lanjutan,” ucap Yanto operator mesin berat jenis beko.

Warga berharap pihak terkait segera melakukan perbaikan menyeluruh, baik secara material maupun nonmaterial, termasuk normalisasi saluran air, perbaikan rumah warga terdampak, serta kejelasan tanggung jawab dari pengembang agar kejadian serupa tidak terulang.(Adt)

To Top
Exit mobile version